Link-link Penting
Dinding Siswa
Guru Piket Hari ini
- Dra.Lilis Lasmanah
- Drs.Madi Rusmaedi
- Siti Sundari,S.Pd.
Pengunjung : 20.655.966
| Hari ini | 6.996 |
| Bulan ini | 445.757 |
| IP anda | 50.16.17.90 |
| Tamu Online | 19 |
![]() |
|
Teraktif
- Siswa
- Orangtua Siswa
- Guru
- Pegawai
Dinding Siswa
Kesucian Cinta : Episode 07
Kesucian Cinta
Episode 07
(Episode Terakhir)
(Sebelumnya.....)
“Riki, gue berhasil dapetin barang ini. Ayo cepet kita balikin ke Fatimah.” Dengan semangat, Raka dan Riki bergegas ke rumah Fatimah. Brawi yang melihat mereka keluar dari kamarnya, langsung mengejar mereka. Ia takut liontin itu diambil oleh Raka dan Riki alias Galang dan Gilang.
Akhirnya tiba juga mereka di rumah Fatimah. Fatimah, Fahri dan Umi Zahra sudah menunggu kedatangan Raka dan Riki. Kedatangan mereka kali itu bermaksud melamar Fatimah, tapi Fatimah harus memilih salah satu dari antara Raka dan Riki.
Raka dan Riki duduk bersimpuh dihadapan Fatimah. “Fatimah, maksud kedatangan kita kali ini yaitu ingin mengembalikan barang kamu.” Kata Raka. “Tapi ada maksud lain. Sekaligus kita ingin menyatakan perasaan kita yang sebenarnya. Bahwa sebenarnya kita ini.....”
Tiba-tiba dari belakang ada suara teriakan memanggil kedua pemuda itu, “Galang! Gilang! Pulang kalian, kembalikan liontin itu!!!” Suara Brawi itu menggagalkan pernyataan Raka dan Riki atas Fatimah.
Semuanya berlarian ke luar. Fatimah, Fahri dan Umi Zahra sangat terkejut ketika melihat sosok Brawi di depan rumah sambil membawa golok. Brawi yang melihat mereka pun terkejut pula, terlebih ketika melihat Umi Zahra.
“Sa.... Sarah? Saraaaah?!” Brawi berteriak menyebut nama itu pada Umi Zahra. Ternyata benar, Umi Zahra itu adalah ibunda dari Fahri, Fatimah dan Gilang Galang, yakni Sarah.
“Mas Brawiiii!” Umi berlari menuju Brawi yang melepaskan goloknya. Mereka saling berpelukan. Betapa rindunya Brawi pada Sarah, ia beribu-ribu kali meminta maaf atas kekejian yang pernah ia lakukan terhadap Sarah.
Sarah pun ingin mengambil liontin yang tengah digenggam oleh Fatimah. “Tunggu dulu! Umi pasti ingin bilang kalau Umi adalah ibu kandung aku, kan? Tapi jawab dulu pertanyaan aku. Apa isi liontin ini?” Fatimah yang ragu mengajukan syarat.
Dengan semangat, Sarah menjawab, “Isi daripada liontin itu adalah bertuliskan... ‘Sarah dan Brawi’.” Fatimah tercekat, rupanya ia tidak menyangka kalau Sarah yang disebut-sebut sebagai Umi Zahra itu adalah ibu kandungnya.
“Anakku, Raka dan Riki ini adalah saudara kembar kalian, Si Gilang dan Si Galang.” Ujar Brawi. Dengan pernyataan itu, Fatimah sakit hati. 2 lelaki yang dicintainya adalah adiknya sendiri. Air mata membanjiri wajahnya. Ia belum bisa menerima kenyataan itu.
“Kak Fatimah....” bisik Galang. “Ini takdir. Kita gak bisa bersama. Aku dan Galang adalah adik kak Fatimah dan Kak Fahri.” Sambung Gilang.
Fatimah mengangguk pelan. Rasa bersalah Fatimah juga tak dapat dielakkan lagi, ia begitu merasa durhaka terhadap ibunya yang selama ini selalu ia maki dan ia cerca. Galang dan Gilang pun demikian, mereka meminta maaf pada ibu mereka.
Fahri sangat bahagia. Ia akhirnya bisa bersatu kembali bersama keluarganya. Ayah, ibu, dan adik-adiknya kembali dalam moment saat bulan suci Ramadhan. Ini adalah ramadhan yang paling berkesan bagi Fahri. Mereka semua berdekapan menciptakan suasana haru sebuah keluarga.
Malam takbiran, menjadi malam suci pertama bagi keluarga Fahri. Ia dan keluarganya berkeliling mengitari rumah-rumah tetangga mereka sekadar bersilaturrahmi sekaligus merayakan kembalinya keluarga mereka.
Mentari sudah bersinar di ufuk timur. Embun suci seakan menjadi saksi dimulainya hari raya. Pakaian putih nan bersih menjadi pilihan keluarga Fahri untuk beribadah Shalat Idul Fitri. Gema takbir seolah menjadi sebuah perayaan kesucian cinta di hari yang suci itu. Cinta ibu, cinta ayah, cinta keluarga.
Fahri, Fatimah, Gilang dan Galang duduk bersimpuh di hadapan Brawi dan Sarah seraya berkata, “Ibu, ayah, maafkan kami........”
SELESAI
Pendapat

