Link-link Penting

Dinding Siswa

Pengunjung : 20.981.782

Hari ini 15.308
Bulan ini 175.843
IP anda 50.16.132.180
Tamu Online 13

Teraktif

Dinding Siswa

Kesucian Cinta : Episode 01

Kesucian Cinta

Episode 01

           

            Malam itu, Sarah dan ke empat anaknya dikejar oleh Brawi, suami Sarah. Brawi ingin mengusir Sarah dan keempat anaknya dari rumahnya. Karena rumah itu akan ia isi bersama istri barunya. Namun Sarah tetap mempertahankan rumah dan anak-anaknya.

            Golok dan pisau melekat erat di tangan Brawi. Ia berambisi mengejar Sarah hingga ke tengah hutan. Sementara anak-anak mereka ditinggal di rumah. Mereka semua menjerit saat ibu mereka dikejar dan ingn dibunuh ayah mereka.

            “Ya Allah...! lindungilah ibu...” lirih Fahri sang kakak sulung. Fatimah putri kedua Sarah dan Brawi pun tak mau kalah memanjatkan doa-doa. Sedangkan Galang dan Gilang si kembar tertidur lelap di kamar.

            Selagi situasi tegang, datanglah Mirana, istri kedua Brawi yang baru menikah kemarin. “Heh anak-anak nakal! Lebih baik sekarang juga bereskan barang-barang kalian dan pergi dari sini! Cepat!” Mirana mengusir Fahri dan adik-adiknya.

            “Tunggu tante, saya mau bangunkan Galang dan Gilang dulu.” Fatimah sempat-sempatnya ingin membangunkan kedua adik kembarnya. Namun Mirani tidak memberikan kesempatan untuk Fatimah. Fatimah dan Fahri ditarik keluar dan diusir. Pintu rumah ditutup rapat-rapat. Fatimah dan Fahri pergi entah ke mana.

            Selang dua jam kemudian, Brawi mendobrak pintu rumah dan ia marah-marah, “Sial! Wanita itu gagal aku bacok!”

            “Lantas, kemana dia?” seru Mirani. “Dia lari jauh ke hutan!” kata Brawi dengan bentakannya yang keras.

            Suara Brawi yang berisik membangunkan Galang dan Gilang. Rupanya Mirani tidak sadar sedari tadi Galang dan Gilang masih di rumah, tidak dia usir.

            Brawi sempat kaget melihat mereka, “Lho, kenapa dua makhluk ini tidak kamu usir, Mir?”

            “Ya ampun! Aku gak nyadar, Mas! Aku kira anakmu Cuma dua, tahunya ada dua lagi!” sadar Mirani. “Gimana donk, Mas?” lanjut Mirani.

            “Aku tahu, mereka bisa kita jadikan senjata untuk hidup!”

(Bersambung.....)

Selanjutnya........

17 tahun kemudian

            “Marhaban Ya Ramadhan. Akhirnya kita bertemu lagi di bulan suci ini ya, kak.” Fatimah  begitu tersenyum saat bulan suci Ramadhan ada dihadapannya dan juga kakaknya, Fahri.

            “Iya, Fat. Tapi...” Fahri merasa berat. “Tapi apa, kak?” tanya Fatimah. “Tapi gimana ya. Nasib ibu, bapak, Gilang dan juga Galang? Apa bapak masih menjadi preman?”

            Ternyata sucinya bulan Ramadhan belum lengkap bagi mereka tanpa kehadiran keluarga di sisi mereka. Mereka sangat mengharapkan kesucian cinta dari keluarga mereka yang dirindukan selama 17 tahun ini hingga mereka menjadi orang kaya.

Pendapat