Link-link Penting
Dinding Siswa
Pengunjung : 20.746.866
| Hari ini | 8.451 |
| Bulan ini | 533.623 |
| IP anda | 54.224.79.93 |
| Tamu Online | 20 |
![]() |
|
Teraktif
- Siswa
- Orangtua Siswa
- Guru
- Pegawai
Dinding Siswa
Misteri Cermin Hitam 2 : Eps. 04
Misteri Cermin Hitam – Season 2
Episode 04
(Sebelumnya...)
“Bila, kamu janagan salah sangka dulu sama Mbak Citra. Masa’ baru aja dia berangkat kerja udah pukulin Riva lagi? Aku kira kamu ini Cuma berhalusinasi!” kata Sandi ketika didapatinya Nabila melaporkan kejadian itu. Nabila justru membantah, “Sandi, aku lihat dengan mata kepala aku sendiri! Mabak Citra udah pukulin Riva sampai berdarah.” Nabila menunjukkan buktinya, yakni bercak-bercak merah yang ada di wajah Riva.
Sandi heran atas tindakan istrinya yang kerap memarahi kakak iparnya. Setiap ditanya Nabila, Citra selalu menggeleng-geleng kepala. Nabila tidak segan-segan untuk memukul kakaknya. Citra akhirnya turun tangan, ia tidak mau dirinya diperdebatkan dan disalahkan terus menerus. “Oke, kalau memang mbak bersalah, apa buktinya? Apa? Apa, Nabila?” seru Citra dengan rasa percaya diri.
---
Nabila pun menuntun Riva dan menunjukkan luka-luka memar yang ada pada wajahnya. Citra sendiri amat kaget. “Siapa yang berbuat sekeji ini sama anakku?” Citra menangis. Nabila membawa perkara ini ke Kantor Perlindungan Anak agar persoalannya dapat diselesaikan secara hukum. Dan, Nabila sudah siap untuk menjadi ibu dari Riva, pengganti Citra.
Sandi terus melarang Nabila mengurus persoalan ini ke pihak yang berwenang, karena ia sendiri sama sekali tidak melihat Citra berbuat yang aneh-aneh pada anaknya, apalagi mengenai penampilan Citra yang menyeramkan. Meski sudah dicegah, Nabila terus bertekad untuk melaporkan kasus ini kepada Polisi dan Perlindungan Anak.
Dengan penuh kepercayaan diri, Nabila bersaksi apa adanya. Ia menyatakan bahwa Riva telah disiksa oleh ibu kandungnya sendiri hingga memar-memar. Pihak mereka pun tidak langsung percaya. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, kasus ini dinyatakan selesai karena Nabila tidak mempunyai bukti.
‘Pak, kenapa kasus ini dibiarin begitu aja? Saya tidak terima keponakan saya disiksa terus menerus oleh ibunya.” Nabila protes.
“Saudari Nabila, menurut keterangan saksi, pengacara dan terdakwa Citra, mereka sama sekali tidak melihat kejadian-kejadian penyiksaan itu. Dan sepertinya bukan ibu Citra yang melakukannya. Bisa-bisa anda yang terkena hukuman karena atas dasar tuduhan tanpa bukti.” Kata Hakim.
Nabila sungguh berada dalam kemelut. Di sisi lain, ia memang melihat dengan mata kepalanya sendiri ada sosok Citra lain yang menyiksa Riva, di sisi lan juga ia percaya bahwa kakaknya tidak mungkin berbuat sekeji itu. Nabila sungguh kebingungan. “Pak Hakim, memang saya tidak punya bukti. Tapi saya benar-benar melihat kejadian itu!” Nabila bersikeras.
Tiba-tiba dari belakang ada yang bersaksi. “Itu bukan Citra, Nabila!” suara itu adalah suara Sandra, sahabat Citra. Sandra sengaja didatangkan oleh Sandi. Semua orang tertegun. Termasuk Citra dan Nabila. “Kak Sandra? Ja... jadi siapa orang yang melakukan penyiksaan terhadap Riva? Wajah dan penampilannya begitu mirip dengan Mbak Citra.” Kata Nabila yang suaranya kian merendah.
Sandra tersenyum lalu menjawab, “Cermin hitam yang dipelihara oleh Citra membangkitkan energi gaib itu kembali. Dan asal kalian tahu, cermin itu adalah cermin Ki Damar.”
“Tapi... Ki Damar bukannya sudah mati?” Marni menyanggah. “Memang, Ki Damar sudah mati, tapi wangsitnya masih hidup. Dan kini dipegang oleh Nyi Dewi Wardhini, keturunannya Ki Damar yang mewarisi wangsit untuk menghancurkan keluarga Citra. Selagi wangsit itu berjalan, maka sosok Citra lain yang timbul dari cermin hitam akan terus membuat ulah seperti kesalahpahaman seperti ini.” Jelas Sandra. Kini sudah jelas, semuanya terjawab. Nabila bersujud-sujud terhadap kakaknya karena sudah menuduh yang bukan-bukan.
“Mbak, maafin Bila. Bila menyesal sekali.” Ucap Nabila. “Nggak apa-apa, Bil. Sebelum kamu minta maaf, Mbak udah maafin kamu.” Citra tersenyum.
Langkah selanjutnya adalah mereka memancing sosok Citra yang menyeramkan dari dalam cermin. Namun sebelumnya, Sandra membuka mata batin semua orang agar jelas melihat penampakan yang sesungguhnya. Mulai dari Citra, Marni danSandi. Semua mata batin mereka telah terbuka. Saatnya Sandra berdiri di depan cermin sambil membaca mantra.
Perlahan, seberkas titik putih muncul di cermin makin lama makin besar berwujud menjadi sosok Citra yang menyeramkan. Pada saat Citra melihat ada dirinya yang lain keluar dari cermin, ia amat kaget. Ternyata itulah biang keladi dari kesalahpahaman mereka.
Sosok itu bergerak mendekati Sandra. Sandra terus mengucapkan mantra-mantranya sambil membasuh-basuh wajah sosok itu dengan air dingin. Sosok itu menggeram dan memanggil Nyi Dewi Wardhini. Nyi Dewi Wardhini pun datang. Ia membantu sosok itu agar terus mendekati Sandra dan menyerangnya. Namun kekuatan Sandra lebih kuat daripada Nyi Dewi Wardhini. Dengan sendirinya, sosok menyeramkan itu berpaling dari Nyi Dewi dan berbalik menyerangnya karena ia telah menjadi budak Sandra. Nyi Dewi kalah dan tak berdaya. Kekuatannya telah habis dan ia meminta ampun pada Sandra.
“Ampun, Nyai. Saya tidak akan pernah membangkitkan wangsit itu lagi. Saya berjanji untuk mencabut kutukan atas misteri cermin hitam, Nayi. Ampun, Nyai. Sekarang izinkan saya pulang.” Nyi Dewi bersujud dihadapan Sandra seolah Sandra memiliki kekuatan lebih dari padanya.
Semua telah berakhir, makhluk menyeramkan itu kini sudah melebur hilang dalam mantra Sandra. Nyi Dewi Wardhini sudah berjanji tidak lagi membangkitkan wangsit jahat itu lagi. Dan kini, Cermin hitam itu berfungsi sebagaimana menstinya sebagai cermin untuk bercermin melihat pandangan diri.
SELESAI
Pendapat

